via ohsopictures
saya memang gadis yang manja sebenarnya, apalagi beberapa pekan ini dia benar-benar memanjakan saya bak seorang ratu. kami sering jalan-jalan keliling kota dengan motornya yang berganti-ganti merk dan jenis, kami sering bercengkrama membahas hal-hal penting (menurut kami) di sudut rumah makan favorit kami dan ia pun semakin sering menawarkan saya untuk diantar pulang sampai depan komplek rumah saya. what a lovely :3 saya yakin dia kalut. KALUT. dia takut kehilangan saya setelah sahabatnya membicarakan beberapa fakta tentang hubungan kami. yasudahlah, toh saya tidak dirugikan, dia pun menjadi lebih menghormati dan menghargai keberadaan saya sekarang :) anyway, kali ini saya hanya ingin membicarakan tentang kami, jadi bila ekspetasi kalian salah dengan judul yg manipulatif ini, stop reading and be kepo. LOL kami tidak jarang berselisih pendapat, namun kami berusaha untuk tidak membesar-besarkan masalah karena masih ada masalah yg jauh lebih besar menghadang kami. well, ga bakal saya bahas disini karena bisa merusak mood saya pagi ini. menurut saya, dia ganteng. oh well. I’d better end up this talking because it goes more ridiculous. kesimpulannya. I love him :*
Yang saya khawatirkan adalah perasaan dia. Ya, yang masih dia pendam. Entah kenapa beberapa hari ke belakang ini saya jadi memikirkan perasaan dia, padahal di hari-hari sebelumnya saya biasa aja tuh. Mau dia ngapain atau gimana ya saya cuma sebatas teman seangkatan, ga lebih. Namun setelah melewati beberapa momen bersama (kami dalam acara himpunan maupun angkatan) makin Nampak bahwa dia terlihat “memusuhi” saya.
“memusuhi” itu nyesek men. Saya dianggap ga ada. Di-skip. Anjir ga enak banget digituin. Padahal bisa saya pastikan bahwa perpisahan kami dulu didasari karena kondisi kami yang berbeda. Dunia kami berbeda jauh, dan saya pun kurang cocok dengan kepribadian dia. Namun setelah saya tanyakan beberapa teman saya, mereka ternyata sempat menyangka saya ini jahat. Saya disangka selingkuh dengan pacar saya yg sekarang lah, yang cuma mainin perasaan dia lah, yang ini itu, ah capek. Hei, yang menjalani hubungan ini kami, yang merasakan perpisahan pun kami, kalian tau apa?!
Percuma memang marah-marah disini. Toh no mention hahhahha. Dari awal hubungan itu, sudah diprediksi bahwa sayalah yang akan menyakiti dia karena saya dianggap “berpotensi” melakukannya. Sungguh saya tidak ingin menciptakan kondisi yang sebegini dinginnya antara kami. Andai saja hubungan kami seperti pasangan lain (teman seangkatan, putus, menjadi teman baik). Terus saja berandai-andai.
Dia kini tidak seperti dulu, dia sudah berubah. Dia bisa lebih membaur dengan yang lain, dia sudah berubah. Dia membangun sebuah tembok tinggi dan tebal di antara kami, entahlah tembok apa itu, lagi-lagi, dia sudah berubah. Bagaimana dengan perasaannya? Hanya dia dan Tuhan yang tau.
sudah selang 4 hari lalu setelah tanggal 5 Desember 2011, tepat satu tahun lalu saat saya mulai mempercayai dia dengan segala kekurangan yang dia utarakan sesaat sebelumnya. saya mencintai dia. hahahahahhaa!
dia bukan pria yang sempurna di mata saya. pemalas, pelupa, tengil dan keras kepala. namun dia baik hati, penolong, sabar. dia mencintai saya yang egois dan emosional ini bak seorang ratu, dia menjaga perasaan saya bak sebuah bola kristal yang rapuh dan saya tau dia begitu bukan dibuat-buat belaka.
banyak masalah yang datang selama 1 tahun kami bersama. perseteruan sepupu beserta keluarga saya dengan dia, masalah ego kami masing-masing sampai masalah eksternal yang kadang-kadang jadi bumbu dalam hubungan kami.
masa lalu dan masa depan. kami sama-sama memiliki masa lalu yang sulit dilupakan dan kami punya masa depan yang telah kami rangkai sedemikian rupa, dan saya harap saya ada di dalam rencana masa depannya.
apakah ini jawaban Tuhan atas semua doa saya setiap saat? apa ini adalah awal sebuah takdir yang baru? hanya Dia yang tahu, dan saya akan tetap “membiarkan hidup berjalan pada jalurnya, dan hidupku pada jalur yang aku rancang” :D
I love you, Andi Juandi Manaf